Jumat, 29 Juni 2012

metode penelitian bahasa


PENELITIAN DAN MASALAH PENELITIAN BAHASA

A.  Ihwal Penelitian dan Penelitian Bahasa
Adanya dua wujud tanggapan manusia terhadap realitas alamiah yaitu di samping dia mengerti alamnya sebagai sesuatu yang statis, ia juga mengamati alamnya sebagai sesuatu yang berubah dan berkembang atau sebagai sesuatu yang dinamis, merupakan salah satu penyebab munculnya persoalan yanga mendorong manusia untuk selalu mencari jawabannya.  Itu dilakukan melalui penelitian terhadap realitas alamiah yang memunculkan persoalan tersebut. Penelitian tidak lain adalah ikhtiar manusia yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi.Pencarian jawaban
Penelitian ilmiah, seperti yang dinyatakan oleh Kerlinger(1993) adalah penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap proposisi-proposisi hipotetis tentang hubungan yang diperkirakan terdapat antar gejala alam. Yang dimaksud dengan penelitian bahasa adalah penelitian yang sistematis, terkontrol, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap objek sasaran yang berupa bunyi tutur (bahasa).
Penelitian yang bersifat sistematis maksudnya penelitian itu dilakukan secara sistematis dan terencana, keteraturan, berkelanjutan, atau bertahap. Penelitian yang bersifat terkontrol, maksudnya bahwa setiap aktivitas yang di lakukan dalam masing-masing tahapan itu dapat dikontrol baik proses pelaksanaan baik hasil yang di capai, karna ketepatan alat dalam menyelesaikan suatu masalah atau terkontrol itu dapat di artikan penggunaan metode secara tepat. Penelitian yang bersifat empiris, maksudnya fenomenal yang nyata yang menjadi objek penelitian itu adalah bahasa yang benar-benar hidup dalam pemakaian bahasa. Penelitian yang bersifat kritis adalah kritis terhadap hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang di perkirakan artinya tidak dapat menerima begitu saja suatu penyelesaian. Kritis dapat pula mengandung makna kreatif.
Uraian ihwal penelitian bahasa yang disasarkan menyangkut semua tahapan mulai dari tahap prapenelitian, sampai tahap ke pelaksanaan penelitian, dan tahap pascapenelitian.




B.  Masalah dan Sumber Masalah dalam Penelitian Bahasa.
Pada dasarnya penelitian merupakan ikhtiar manusia dalam upaya pemecahan masalah. McGuigan (dikutip dari sevilla dkk, 1993:4) menyatakan bahwasetidak-tidaknya aada tiga keadaan yang dapat memunculkan masalah, yaitu;
1.      Ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita;
2.      Ada hasil-hasil(penelitian) yang bertentangan; dan
3.      Ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskannya melalui penelitian.
Dalam hal ini, teori linguistik tertentu cocok untuk bahasa tertentu misalnya satuan lingual kata dan afiks(morfem terikat) perbedaan keduanya terletak pada; pertama, satuan kata memiliki potensi untuk di tuturkan terisolasi dari satuan lingual lainnya; Kedua, satuan lingual afiks tidak memiliki potensi demikian. Karena ketergantungannya begitu besar pada satuan lingual lain, identitas fonetisnya sering tidak selalu mutlak di tentukanoleh satun lingual yang menjadi tempat ketergantungannya itu. Realisasi afiks {meN-} dalam bahasa Indonesia, misalnya dapat berwujud: /me-/, /mem-/, /men-/, /meny-/, /meng-/ , dan  /menge-/ masing-masing pada: memakan, membeli, mendatang, menyunati, mengganggu,dan mengebom , tergantung pada fonem awal bentuk dasar dan jumlah silabe (untuk realisasi {meN-} menjadi / menge-/ ) satuan lingual yang menjadi bentuk dasarnya.
Masalah yang dapat di teliti akan muncul jika pengetahuan teoritis yang di ketahui oleh calon peneliti di kaitkan dengan penggunaan bahasa tertentu dan dari pengaitan itu terdapat kesenjangan antara teori dengan buku empiris(penggunaan bahasa tertentu). Prospek penemuan masalah penelitian dimungkinkan karena sejauh ini teori-teori linguistic yang di kembangkan sering di landaskan pada bahasa-bahasa tertentu. Penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang muncul dari keadaan.
Yang di maksud dengan keadaan adanya hasil penelitian yang bertentangan adalah, pertama terjadi pertentangan  antara hasil penelitian yang satu dengan yang lain yang objek sasarannya berupa bahasa dan aspek bahasa yang di teliti sama dan kedua, terjadi pertentangan hasil penelitian dengan bukti-bukti empiris yang berupa pemakaian bahasa yang sesungguhnya.
Sebagai contoh,hendak meneliti salah satu bidang kebahasaan tertentu,katakan bidang morfologi bahasa Sasak. Dalam merumuskan masalah secara spesifik teori memainkan peran yang cukup penting,terutama memberi tahu tentang aspek-aspek kajian yang menyangkut bidang morfologi atau bidang lainnya yang akan diteliti. Dari teori dapat diketahui misalnya, aspek kajian morfologi menyangkut aspek afiksasi dan reduplikasi. Dapat dirumusan masalah yang akan diteliti yang berkaitan dengan bidang morfologi bahasa Sasak tersebut langsung menjurus ke aspek-aspek yang ingin di teliti seperti berikut:
(1)   Jenis-jenis afiks dan reduplikasi apa saja yang digunakan dalam pembentukan kata bahasa sasak?
(2)   Apakah fungsi dan makna tiap-tiap afiks dan tipe reduplikasi tersebut?
C.  Hipotesis dan Teori dalam Penelitian Bahasa

Setelah masalah di rumuskan langkah selanjutnya adalah memulai penelitian itu. Jawaban sementara terhadap masalah yang hendak diteliti tersebut hipotesis (bandingkan Gay, 1976 dengan Sudaryanto, 1986)
Sebagai jawaban yang sifatnya sementara, maka hipotesis haruslah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1.         Hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif (pertanyaan).sebagai contoh, hipotesis yang diajulan sehubungan dengan yang di teliti untuk bidang morfologi bahsa sasak adalah.
a.       Afiks-afiks yang digunakan dalam pembentukan kata bahasa sasak dapat dikelompokkkan atas afiks yang berupa prefix, infiks, sufiks, dan dari afiks-afiks itu ada yang derivative dan ada yang inflektif sedangkan reduplikasi yang digunakan dapat dikelompokkan  atas reduplikasi utuh, sebagian berimbuhan, dan berubah bunyi; serta masing-masing tipe reduplikasi itu ada yang derifatif dan infektif.
b.      Tiap-tiap afiks dan tipe-tipe reduplikasi tertentu memiliki fungsi dan makna tertentu sesuai dengan bentuk dasar yang dikenai oleh proses afiksasi dan reduplikasi tersebut.
2.      Hipotesis harus dapat di uji.
3.      Hipotesis harus masuk akal artinya mengemukakan penjelasan yang masuk akal (reasonable explanation) dari kejadian-kejadian yang telah dan akan terjadi. Hubungan fariable harus dinyatakan dengan istilah yang jelas (pasti) sehingga fariable dapat di ukur.
Ada beberapa cara pengungkapan hubungan antar fariable, misalnya (a) pengungkapan hubungan sebab akibat, (b) pengungkapan hubungan korelsional, dan (c) pengungkapan hubungan pengukuran perbedaan. (c) dari suatu hipotesis biasanya digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa (pengajaran bahasa) dan sosiolinguistik. Dari kenyataan itu, dapt dilakukan penelitian dengan mebuat hipoteesis melalui ketiga cara pengungkapan hubungan antar variable tersebut. Kita akan membuat hipotesis dalam bentuk (a) apabila kita bersumsi nahwa pemberian mata kuliah keterampilan membaca pada mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan membaca; dalam bentuk (b) apabila kita berasumsi bahwa tingginya kemampuan membaca mahasiswa ada kolerasinya dengan pemberian mata kuliah keterampilan membaca dan dalam bentuk (c) apabila kita berasumsi bahwa terdapat perbedaan kemampuan membaca antara dua kelompok mahasiswa yang mengikuti mata kuliah dan yang tidak mengikuti mata kuliah.
Kita dapat mengetahui dan menyatakan tentang konsep afiks tertentu (prefix, infiks dan sufiks) baik yang derivative begitu pula dengan tipe-tipe reduplikasi tertentu yang diuga berlaku pada proses pembentukan bahasa, karna teorilah yang mengenalkan kepada kita.
Selain itu sebagai jawaban sementara terhadap yang ingin diteliti, maka hipotesis berfungsi:
1.      Memperkenalkan peneliti untuk berpikir dari awal suatu penelitian, karena rumusan hipotesis tidak lain adalah pernyataan masalah secara spesifik.
2.      Menentukan tahap-tahap atau prosedur suatu penelitian, karena hipotesis tidak lain adalah rantai penghubung antara teori dan pengamatan.
3.      Membantu menetapkan bentuk penyajian analisis dan interpretasi data dalam laporan penelitian (sevilla, 1993:15-16)


D.  Metode, Data,dan Teori dalam Penelitian Bahasa
Metodepun memiliki hubungan dengan teori. Maksudnya, pemilihan penggunaan metode dan teknik-teknik tertentu pada tahapan penyediaan data, apakah itu metode simak atau metode cakap sangat ditentukan dari watak dasar objek penelitian. Metode cakap dengan tehik pancing dengan teknik lanjutan berupa teknik sisip. Hal ini di sebabkan untuk mengidentifikasi apakah suatu satuan lingual tertentu merupakan afiks atau kata haruslah dapat di tunjukkan dengan adanya data yang dapat membuktikan bahwa satuan lingual itu tidak memiliki potensi untuk diucapkan terisolasi dari satuan lingual lainnya. Data yang dimaksudkan adalah berupa kata yang di dalamnya terdapat objek penelitian yang berupa afiks tersebut. Afiks hanya dapat diperoleh dari teori tentang morfem terikat yang disebut afiks itu sendiri. Komponen utama dalam pelaksanaan penelitian, yaitu adanya masalah yang secara tetatif dapat (tidak selalu) terefleksi pada hipotesis, metode dan teknik-tekniknya dan data yang di dalamnya terdapat objek penelitian disamping konteks objek penelitian memiliki yang bersifat dependensi pada teori.

E.   Ihwal Data dan Objek Penelitian Bahasa

Sutu hal yang perlu disadari adalah data yang berbeda dengan objek penelitian. Sunaryanto (1993:3) memberi batasan data sebagai bahan penelitian, yaitu bahan jadi (lawan dari bahan mentah) yang ada karena adanya pemilihan aneka macam tuturan. Sebagai bahan penelitian, maka didalam data terkandung objek penelitian dan unsur lain yang membentuk data yang di sebut konteks (objek penelitian). Jadi pada dasarnya data tidak lain adalah objek penelitian plus konteks (D= Op + K) (periksa Sudaryanto, 1988 dan 1990).
Konteks objek penelitian bahasa selalu bersifat ganda. Artinya, objek penelitian bahasa selalu hadir dalam konteks yang jumlahnya lebih dari satu. Kegandaan konteks objek bahasa membawa dampak pada pendefisian data penelitian bahasa sebagai bahan jadi penelitian yang berupa objek penelitian dengan keseluruhan konteks yang memungkinkan hadirnya objek penelitian tersebut.
Konsep data bersifat holistis, dalam arti kata dapat dipandang sebagai etitas yang identitasnya ditentukan oleh keterpaduan unsure-unsur yang membentuk entitas tersebut. Setiap unsure yang membentuk entitas itu dapat di andaikan sebagai objek penelitian plus konteksnya. Pengertian konteks (objek penelitian) tidak hanya di pandang dari jenis konteks itu sendiri sebelum menjadi konteks dari objek penelitian (asal substantifnya) seperti objek dari penelitian afiks {ber-} dalam bahasa Indonesia dapat berupa kata dasar kata kategorial kata, misalnya sepatu, sepeda dan lain-lain, atau jenis data yang adanya diakibatkan oleh kehadiran konteks plus objek penelitian. Konteks objek penelitian harus pula dipandang dari posisi structural konteks tersebut dalam hubungannya dengan objek penelitian yang secara bersama-sama membentuk data.
Dalam penelitian bahasa bertujuan untuk menentukan letak suatu satuan lingual, misalnya penelitian tentang posisi yang dapat di tempati oleh adverbia bahasa Indonesia; kemarin dalam susunan beruntun. Kalimat yang mengandung adverbia kemarin missal:
(1)   Saya pergi ke pasar kemarin.
(2)   Saya pergi kemarin ke pasar.
(3)   Saya kemarin pergi ke pasar.
(4)   Kemarin saya pergi ke pasar.
Bukan salah satu atau sebagian dari tuturan di atas, karena untuk dapat menyatakan bahwa posisi yang dapat di tempati adverbial kemarin adalah setelah kata yang menunjuk tempat (tuturan 1), setelah verba (tuturan 2), setelah nomina (tuturan 3), dan mendahului fungsi subjek (tuturan 4) kita harus membandingkan ke empat tuturan tersebut. Dengan demikian kiranya cukup jelaas bahwasannya komposisi structural konteks dalam hubungan dengan objek penelitian untuk membentuk data perlu diperhitungkan dalam member pengertian konteks objek penelitian.Pandangan holistis terhadap posisi objek penelitian hubungannya dengan konteks objek penelitian tidak harus terletak pada dua alternative berikut: letak kanan (K-Op) dan letak kiri (Op-K)dari objek penelitian (Sudaryanto, 1990:16)
Adanya kenyataan berbagai macam posisi konteks dalam hubungannya dengan objek penelitian bahasa dalam susunan beruntun menggambarkan bahwa objek penelitian bahasa bersifat ganda (multikonteks). Artinya, objek penelitian bahasa hadir dalam bebagai konteks, seperti objek adferbia kemarin yang setidak-tidaknya mucul dalam empat konteks dan secara bersama-sama membentuk empat tipe data. Kegandaan konteks dapat dipandang secara sistemik. Maksudnya hubungan antara konteks dengan objek penelitian bersifat sistemik jadi muncul dalam uraian yang berbeda. Watak objek penelitian bahasa yang bersifat ganda benar-benar harus di sadari oleh peneliti karena akan sangat berperan dalam tahapan penyediaan data dan sekaligus akan menentukan wujud metode dan teknik yang di gunakan pada tahap penyediaan dan analisis data.
Data sebagai entetis berdasarkan pandangan holistis, mengandung pula pengertian bahwa data tidak hanya memiliki aspek lahiriah, yang bersifat mawujud seperti yang teramati pada korpus data. Akan tetapi data juga memiliki aspek batiniah yang bersifat yang bersifat tanwujud atau yang disebut mantes. Kedua-duanya merupakan bagian yang intergral, yang tidak munkin di pisahkan satu sama lain dalam membentuk data itu sendiri. Oleh karena itu penyediaan data berarti menyediakan bahn di jadikan penelitian yang bersifat mawujud dan tan wujud. Aspek tanwujud itu adalah aspek yang disebut oleh Sudaryanto (1988 dan 1990) sebagai konteks data, yaitu isi tuturan, penutur, hubungan antar penutur, dan tuturan diluar data. (periksa Suryanto,1990, 25-28)
Dialektologi maupun sosiolinguistik memilki objek sasaran yang sama, yaitu mengkaji unsure-unsur kebahasaan (vaariasi bahasa). Hanya saja yang pertama berhubungan dengan perbedaan bahasa yang disebabkan faktor geografis dan historis (untuk dialektologi diakronis) sedangkan yang kedua berhubungan dengan perbedaan bahasa yang disebabkan oleh faktor sosial. Oleh karena itu objek penelitiannya jelas perbedaan bahasa yng disebabkan oleh faktor geografis untuk penelitian dialektologi dan perbedaan bahasa yang disebabkan oleh faktor sosial untuk penelitian sosiolinguistik.
Apabila pada penelitian sosiolinguistik didasarkan pada deskripsi perbedaan unsur-unsur kebahasaan karena faktor sosial maka objek kajiannya adalah perbedaan unsur kebahasaan dalam merealisasikan makna tertentu yang terdapat di antara kelompok sosial yang menggunakan bahasa tertentu, atau perbedaan unsur-unsur kebahasaan yang di gunakan oleh suatu kelompok sosial dalam berkomunikasi dengan kelompok sosial yang lain.

F.   Sumber Data: Populasi, Sampel, Dan Informan

            Sevilla dkk. (1993) mendfinisikan populasi sebagai kelompok besar yang merupakan sasaran generalisasi. Dalam hubungan dengan penelitian bahasa, pengertian populasi terkait dengan dua hal, yaitu masalah satuan penutur dan masalah satuan wilayah teritorial. Dengan masalah penutur populasi dimaknai dengan keseluruhan individu yang menjadi anggota masyarakat tutur bahasa yang akan diteliti dan menjadi sasaran penarikan generalisasi tentang seluk – beluk bahasa tersebut. Contoh, jika kita hendak meneliti tentang aspek tertentu dalam bahasa Bima, maka yang menjadi populasi penelitian kita adalah keseluruhan penutur bahasa tersebut, yang dikatakan berjumlah 675.000 jiwa. Adapun populasi dalam pengertian satuan wilayah teritorial dimaknai sebagai keseluruhan wilayah yang menjadi tempat permukiman keseluruhan individu anggota masyarakat tutur bahasa yang menjadi sasaran generalisasi. Pengertian populasi dalam konteks yang kedua ini terlihat dalam penelitian yang berhubungan dengan bidang dialektologi. Penelitian dialektologi, keseluruhan wilayah pakai bahasa yang menjadi sasaran penelitian, disegmentasikan berdasarkan satuan daerah pengamatan yang berdasarkan pada segmentasi administratif pemerintahan, misalnya dusun, desa, atau kecamatan, tergantung pada satuan administratifmana perbedaan dialektual/subdialektual bahasa itu terjadi. Jika satuan administratif yang dijadikan satuan daerah pengamatan adalah desa, maka populasi itu untuk penelitian bahasa dalam pengertian kedua ini menyangkut seluruh desa yang menjadi tempat bermukimnya paenutur bahasa yang akan diteliti tersebut. Misalnya, penutur bahasa Bima yang menjadi objek penelitan kita itu, tersebar dalam 850 desa di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bima dan Dompu. Maka populasi penlitian kita berjumlah 850 desa.
            Mengingat jumlah penutur dan luasnya wilayah pakai suatu bahsa yang akan diteliti, serta keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya, maka sumber data dapat ditentukan dengan memilih sebagian dari populasi tersebut. pemilihan sebagian dari keseluruhan penutur atau wilayah pakai bahasa yang menjadi objek penelitian sebagai wakil yang memungkinkan untuk membuat generalisasi terhadap populasi itulah yang disebut sampel penelitian.

G.  Hakikat Penelitian Bahasa

          Pada dasarnya, penelitian merupakan upaya yang dilakukan untuk menguak identitas objek penelitian. Karena objek penlitian bahasa tidak pernah hadir sendirian, selalu disertai konteks, maka konteks merupakan penentu identitas objek penelitian. Dari penelitian yang mengambil objek kajian berupa satuan lingual {ber-} dalam bahasa indonesia misalnya, dapat dikuak bahwa satuan lingual tersebut memiliki identitas satuan lingual yang disebut afiks, hanya karena terdapat satuan : juang, kerja, pakaian dan satuan lingual lain yang sejenis, yang menjadi konteksnya (Sudaryanto, 1990:16). Di samping itu pula, karena konteks objek penelitian itu bersifat ganda, dapt dikatakan bahwa hakikat penelitian bahasa adalah kegiatan menguraikan identitas objek sasaran objek (objek penelitian) dalam hubungannya dengan keseluruhan konteks yang memungkinan hadirnya objek penelitian tersebut.
            Hakikat penelitian bahasa diatas hendaknya benar – benar disadari oleh penelitia karena akan sangat berperan dalam membantu peneliti pada tahap penyediaan data. Maksudnya, membimbing peneliti bahwa yang harus dilakukan pada tahap penyediaan data adalah menemukan semua jennis konteks yang memungkinkan hadirnya objek penelitian. Lebih lanjut hal ini akan berperan dalam menentukan wujud metode dan teknik yang digunakan baik pada tahap penyediaan data maupun pada tahap analisis data.

H.  Beberapa Tahapan Pelaksanaan Penelitian Bahasa

            Pelaksaan penelitian bahasa menurut tahapannya dapat dibagi atas tiga tahapan, yaitu;
1.      Prapenelitian
2.      Pelaksanaan penelitian, dan
3.      Penulisan laporan peneitian
Prapenelitian dimaksudkan sebagai tahapan yang menuntun peneliti untuk berusaha merumuskan secara jelas tentang masalah yang hendak dipecahkan melalui penelitian. Rumusan secara jelas tersebut mencakup: latar belakang munculya masalah; rumusan masalah secara spesifik dan operasional; hubungan masalah yang hendak diteliti dengan penelitian – penelitian terdaulu (dalam hal ini berkaitan dengan kajian pustaka.) dan teori – teori  tertentu (berkaitan dengan kerangka teori yang akan digunakan); dan metode – metode (termasuk teknik – tekniknya) yang hendak digunakan. Semua hal ini harus tertuang dalam desain penelitian atau proposal.
Dengan demikian, tidak lain adalah tahapan penyusunan desain penelitian (proposal). Tahapan ini ditandai oleh adanya kegiatan menyusun dan terwujudnya sebagai desain penelitian. Patut ditambahkan bahwa selama hal – hal di atas sebuah desain penelitian dapt pula memuat hal – hal yang berkaitan dengan hipotesis, hasil yang diharapkan dari penelitian, daftar pustaka, dan jadwal kegiatan.
Tahapan pelaksanaan penelitian dijabarkan dalam tiga tahapan pokok, yaitu penyediaan data, analisis data, dan membuat rumusan hasil analisis yang diwujudkan dalam bentuk kaidah – kaidah. Ketiga tahapan ini merupakan inti dan kegiatan penelitian (bahasa). Masing – masing ditandai oleh kegiatan menyediakan dan tersedianya data; menganalisis dan ditemukannya kaidah – kaidah tertentu serta tersajinya kaidah – kaidah tersebut dalam rumusan – rumusan tertentu.
Tahapan penulisan laporan penelitian dimaksudkan pada tahap ini peneliti membuat laporan dari penelitian yang dilakukan, yang dapat berwujud makalah, skripsi, tesis, disertasi. Oleh karena itu, tahap ini ditandai oleh kegiatan membuat dan terwujudnya sebuah laporan penelitian.
Ketiga tahapan pelaksanaan penelitian yang disebutkan di atas merupakan persoalan yang hendak diungkapkan secara panjang lebar dalam buku ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar